A WISH FOR A HOPE
“Aku
ingin jadi besar. Aku ingin jadi orang.”—Jasmine, 7 tahun *SD
Setiap manusia pastilah
memiliki harapan dalam hidupnya. Sebuah pengharapan yang nantinya akan menjadi
landasan motivasi, untuk kita dapat melangkah kedepan. Harapan, ya semua insan
yang bernyawa tentulah memiliki harapan dan impian dalam hidup mereka. Tua,
muda,kaya, miskin, sakit, tentu bukanlah
sebuah halangan untuk kita menggantungkan sebuah harapan setinggi mungkin.
Harapan ialah sebuah
proyeksi asa yang bernilai positif, bagi setiap insan yang bernyawa untuk dapat
menyusun strategi dalam mencapai tujuan. Untuk mencapai ‘rasa’ pada sebuah
harapan tentulah harus disertai dengan rasa optimisme untuk terus bergerak
mencapai sebuah harapan yang kelak menjadi nyata. Setiap insan di dunia
ini berhak memiliki mimpi dan harapan dalam hidupnya, sekalipun
ia adalah seorang penyandang disabilitas.
Penyandang disabilitas
adalah istilah dari penyandang cacat, atau seseorang yang memiliki
kebutuhan khusus. Kata disabilitas sendiri diserap dari bahasa inggris disability yang jika dijabarkan maka
disabilitas merupakan kondisi di mana seseorang memiliki keterbatasan atau
ketidaksempurnaan secara fisik, mental, ataupun gabungan dari keduanya. Satu
dari jenis disabilitas itu adalah penyandang retardasi mental.
Retardasi mental ialah
keadaan dengan intelegensi yang kurang, sejak masa perkembangan (sejak lahir
atau sejak masa anak). Retardasi mental ditandai dengan fungsi intelektual yang
secara signifikan berada pada garis dibawah rata – rata, yang disertai dengan
dengan adanya berbagai deficit dalam fungsi adaptif, seperti mengurus diri
sendiri dalam aktivitas sehari – hari yang mucul sebelum usia 18 belas tahun.
Biasanya terdapat perkembangan mental yang kurang secara keseluruhan, tetapi
gejala utama ialah intelegensi yang terbelakang. Retardasi mental disebut juga oligofrenia ( oligo = kurang atau
sedikit, dan fren = jiwa) atau tuna mental.
Sering orang memberikan
stigma negatif terhadap saudara – saudara kita yang mengalami retardasi mental diluar
sana. Kecenderungan orang yang memiliki ‘perbedaan’ dengan kita dianggap
sebagai orang yang lemah, yang tidak melakukan apa – apa. Itu salah! Namun pada
dasarnya meskipun pada fisik maupun mental terdapat perbedaan, tetapi mereka
mempunyai kapabilitas yang sama seperti kita apabila diberi kesempatan. Mereka
yang memiliki reterdasi mental memang memiliki kekurangan pada perkembangan
otak kirinya, namun otak kanannya masih berfungsi dengan cukup baik. Hanya saja
diperlukan peran keluarga dan lingkungan di sekelilingnya untuk terus membantu,
mengarahkan potensi dan kemampuan mereka, dan mengembalikan rasa percaya diri
mereka sehingga membuat mereka dapat hidup mandiri. Menjadi diri sendiri.
Satu dari kisah inspiratif
para saudara kita penyandang disabilitas yang mampu meraih mimpi dan harapannya
adalah Laura Potter yang berperan
sebagai Becky Jeckson di film Glee. Sebuah film Amerika yang mengusung drama
musikal ini sukses dan sangat terkenal baik di lokal maupun internasional.
Becky Jackson adalah seorang ketua tim pemandu cheer leader yang memiliki keterbelakangan mental. Laura Elizabeth
Potter adalah nama lengkap gadis yang mempunyai reterdasi mental yang lahir
pada 10 Mei 1990. Ia tumbuh besar di Inland Empire, California. Laura
menyelesaikan sekolah menengah nya di Riverside Polytechnic High School di
Riverside, California. Dan setelah itu ia merampungkan studi sarjana nya di
Irvine Valley College di Irvane, California. Pada tahun 2011 Presiden Obama pun
mengangkat Laura sebagai Penasehat bagi Komite Penanganan Orang Cacat Mental di
Gedung Putih Amerika.
Melihat sosok Laura Potter
yang sukses menjadi aktris Hollywood, mengingatkan penulis kepada sahabat kecil
saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Namanya Ira ( nama samaran) ia adalah
anak down syndrome yang memiliki
‘perbedaan’ dari kami teman satu kelasnya. Ira adalah sosok anak kecil yang
pada saat itu memiliki kemampuan untuk menangkap pelajaran di bawah rata – rata
dan membuat Ira sulit untuk berkomunikasi dengan lancar seperti anak pada
umumnya. Namun satu hal yang penulis ketahui pada saat itu, meskipun ia berbeda
dengan kami, Ira adalah anak yang sangat menyenangkan. Ia sangat riang, dan
selalu tersenyum kepada semua orang, dan memiliki hati yang tulus, meski tak
jarang anak – anak dari kelas lain sering mencelanya. Kami selalu memperlakukan
Ira selayaknya teman seperti yang lain, bermain bersama, dan selalu mengajak
Ira di setiap aktivitas yang selalu kami lakukan setiap harinya di waktu
sekolah. Satu hal yang harus diketahui adalah Tuhan tidak pernah menciptakan
makhluknya hanya menjadi beban bagi mahkluk lain. Tidak berguna.
Tidak.
Tidak ada manusia yang
diciptakan tidak berguna di muka bumi ini. Manusia diciptakan oleh Tuhan dengan keadaan
yang sangat sempurna. Mungkin sebagian besar orang mengatakan bahwa reterdasi
mental itu adalah sebuah penyakit. Salah. Reterdasi mental bukanlah suatu
penyakit, walaupun reterdasi mental merupakan hasil dari proses patologik di
dalam otak yang memberikan gambaran keterbatasan terhadap intelektual dan
fungsi adaptif. Reterdasi mental dapat terjadi dengan atau tanpa gangguan jiwa
atau gangguan fisik lainnya. Dan secara litelar, anak yang memiliki reterdasi
mental memiliki tiga buah, bahkan sepasang kromosom 21. Yang dimana pada suatu
kondisi hal ini telah membuktikan bahwa anak down syndrome bukan kekurangan, melainkan berlebih.
Lantas atas dasar apa kita
sering mendiskriminasikan mereka yang mempunyai ‘kelebihan’ ini di kehidupan
sehari – hari kita. Setiap orang berhak mempunyai mimpi. Anda, saya, dan mereka
yang memiliki kebutuhan khusus tanpa terkecuali,. Semua bisa dan berhak
memiliki mimpi, Dan bahagia. Keterbatasan bukanlah pembatas seseorang untuk
dapat meraih mimpi nya. Bukankah telah banyak kisah inspiratif dari mereka yang
dapat kita pelajari sebagai bahan renungan kita. ‘A wish for a hope’ adalah
sebuah kata yang sederhana yang mengandung makna bahwa sesuatu harapan yang
sangat sulit terwujud sekalipun, namun bila kita terus berusaha dan berdoa,
harapan itu akan tetap diharapkan menjadi sebuah harapan yang mungkin akan
terwujud suatu saat nanti. Reterdasi mental adalah gejala permanen pada
seseorang yang tidak bisa ditolak. Namun bukan berarti mimpi dan harapan
menjadi penghalang untuk terus bekarya. Tidak ada yang tidak mungkin apabila
kita mau berusaha.
Memiliki anggota keluarga
yang memiliki reterdasi mental bukanlah suatu hal yang mudah. Sebagian keluarga
menganggap hadirnya anak yang memiliki reterdasi mental di tengah – tengah
kehidupan mereka hanya akan menimbulkan masalah, terutama bagi kedua
orangtuanya. Karena mereka pasti akan membutuhkan perlakuan yang khusus dan
ekstra. Ada beberapa latihan dan pendidikan anak dengan reterdasi mental secara
umum ialah; mempergunakan dan mengembangkan sebaik – baik kapasitas yang ada
pada anak, memperbaiki sifat – sifat yang salah atau anti sosial, dan
mengajarkan suatu keahlian ( skill ) agar anak dapat hidup mandiri, dan mencari
nafkah kelak suatu saat nanti.
‘Aku ingin besar, aku ingin
jadi orang’ adalah sebuah ungkapan dari anak 7 tahun yang memiliki reterdasi
mental akan suatu harapan kelak ia menjadi dewasa. Sebuah pengharapan sederhana
namun sangat bermakna. Banyak sekali para anak yang memiliki reterdasi mental
di luar sana, walaupun mereka bukanlah seorang Laura Potter sang aktris
terkenal Hollywood, atau bahkan bukan Ira sahabat penulis yang penuh dengan
ketegaran hatinya, namun setidaknya mereka bisa mandiri. Menjadi diri sendiri
yang memiliki kepercayaan diri yang sama dengan yang lainnya. Percayalah saat
kamu berhenti untuk bermimpi, maka orang lain tidak akan pernah memandang kamu.
Dan selamanya kamu tidak akan pernah percaya diri. Tenang. Karena kamu
mempunyai perbedaan dengan orang kebanyakan, maka Tuhan pasti akan lebih
menyanyangi kamu. Para penyandang disabilitas adalah bukti nyata makhluk
ciptaan Tuhan yang paling sempurna dalam bentuk yang berbeda. Mereka adalah
guru kiriman-NYA agar kita dapat lebih empati terhadap sesama manusia, dan
mereka khususnya yang sering kita marjinalkan keberadaannya.
Dan setiap tanggal 3
Desember adalah sebuah momen untuk kita agar dapat memberikan apresiasi bagi
mereka, saudara kita para disabilitas. Kita belajar banyak dari saudara kita
penyandang disabilitas untuk saling menghargai dan bersikap empati terhadap
sesama.
kamu..dan mereka mempunyai
harapan yang sama. Jangan sebut mereka idiot.!


Tidak ada komentar:
Posting Komentar