Upcoming Event

Kamis, 29 Januari 2015

A Wish For A Hope

A WISH FOR A HOPE



 “Aku ingin jadi besar. Aku ingin jadi orang.”—Jasmine, 7 tahun *SD
Setiap manusia pastilah memiliki harapan dalam hidupnya. Sebuah pengharapan yang nantinya akan menjadi landasan motivasi, untuk kita dapat melangkah kedepan. Harapan, ya semua insan yang bernyawa tentulah memiliki harapan dan impian dalam hidup mereka. Tua, muda,kaya, miskin, sakit,  tentu bukanlah sebuah halangan untuk kita menggantungkan sebuah harapan setinggi mungkin.
Harapan ialah sebuah proyeksi asa yang bernilai positif, bagi setiap insan yang bernyawa untuk dapat menyusun strategi dalam mencapai tujuan. Untuk mencapai ‘rasa’ pada sebuah harapan tentulah harus disertai dengan rasa optimisme untuk terus bergerak mencapai sebuah harapan yang kelak menjadi nyata. Setiap insan di dunia ini  berhak memiliki  mimpi dan harapan dalam hidupnya, sekalipun ia adalah seorang penyandang disabilitas.
Penyandang disabilitas adalah istilah dari penyandang cacat, atau seseorang yang memiliki kebutuhan khusus. Kata disabilitas sendiri diserap dari bahasa inggris disability yang jika dijabarkan maka disabilitas merupakan kondisi di mana seseorang memiliki keterbatasan atau ketidaksempurnaan secara fisik, mental, ataupun gabungan dari keduanya. Satu dari jenis disabilitas itu adalah penyandang retardasi mental.
Retardasi mental ialah keadaan dengan intelegensi yang kurang, sejak masa perkembangan (sejak lahir atau sejak masa anak). Retardasi mental ditandai dengan fungsi intelektual yang secara signifikan berada pada garis dibawah rata – rata, yang disertai dengan dengan adanya berbagai deficit dalam fungsi adaptif, seperti mengurus diri sendiri dalam aktivitas sehari – hari yang mucul sebelum usia 18 belas tahun. Biasanya terdapat perkembangan mental yang kurang secara keseluruhan, tetapi gejala utama ialah intelegensi yang terbelakang. Retardasi mental disebut juga oligofrenia ( oligo = kurang atau sedikit, dan fren = jiwa) atau tuna mental.
Sering orang memberikan stigma negatif terhadap saudara – saudara  kita yang mengalami retardasi mental diluar sana. Kecenderungan orang yang memiliki ‘perbedaan’ dengan kita dianggap sebagai orang yang lemah, yang tidak melakukan apa – apa. Itu salah! Namun pada dasarnya meskipun pada fisik maupun mental terdapat perbedaan, tetapi mereka mempunyai kapabilitas yang sama seperti kita apabila diberi kesempatan. Mereka yang memiliki reterdasi mental memang memiliki kekurangan pada perkembangan otak kirinya, namun otak kanannya masih berfungsi dengan cukup baik. Hanya saja diperlukan peran keluarga dan lingkungan di sekelilingnya untuk terus membantu, mengarahkan potensi dan kemampuan mereka, dan mengembalikan rasa percaya diri mereka sehingga membuat mereka dapat hidup mandiri. Menjadi diri sendiri.
Satu dari kisah inspiratif para saudara kita penyandang disabilitas yang mampu meraih mimpi dan harapannya adalah Laura Potter yang berperan sebagai Becky Jeckson di film Glee. Sebuah film Amerika yang mengusung drama musikal ini sukses dan sangat terkenal baik di lokal maupun internasional. Becky Jackson adalah seorang ketua tim pemandu cheer leader yang memiliki keterbelakangan mental. Laura Elizabeth Potter adalah nama lengkap gadis yang mempunyai reterdasi mental yang lahir pada 10 Mei 1990. Ia tumbuh besar di Inland Empire, California. Laura menyelesaikan sekolah menengah nya di Riverside Polytechnic High School di Riverside, California. Dan setelah itu ia merampungkan studi sarjana nya di Irvine Valley College di Irvane, California. Pada tahun 2011 Presiden Obama pun mengangkat Laura sebagai Penasehat bagi Komite Penanganan Orang Cacat Mental di Gedung Putih Amerika.
Melihat sosok Laura Potter yang sukses menjadi aktris Hollywood, mengingatkan penulis kepada sahabat kecil saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Namanya Ira ( nama samaran) ia adalah anak down syndrome yang memiliki ‘perbedaan’ dari kami teman satu kelasnya. Ira adalah sosok anak kecil yang pada saat itu memiliki kemampuan untuk menangkap pelajaran di bawah rata – rata dan membuat Ira sulit untuk berkomunikasi dengan lancar seperti anak pada umumnya. Namun satu hal yang penulis ketahui pada saat itu, meskipun ia berbeda dengan kami, Ira adalah anak yang sangat menyenangkan. Ia sangat riang, dan selalu tersenyum kepada semua orang, dan memiliki hati yang tulus, meski tak jarang anak – anak dari kelas lain sering mencelanya. Kami selalu memperlakukan Ira selayaknya teman seperti yang lain, bermain bersama, dan selalu mengajak Ira di setiap aktivitas yang selalu kami lakukan setiap harinya di waktu sekolah. Satu hal yang harus diketahui adalah Tuhan tidak pernah menciptakan makhluknya hanya menjadi beban bagi mahkluk lain. Tidak berguna.
Tidak.
Tidak ada manusia yang diciptakan tidak berguna di muka bumi ini.  Manusia diciptakan oleh Tuhan dengan keadaan yang sangat sempurna. Mungkin sebagian besar orang mengatakan bahwa reterdasi mental itu adalah sebuah penyakit. Salah. Reterdasi mental bukanlah suatu penyakit, walaupun reterdasi mental merupakan hasil dari proses patologik di dalam otak yang memberikan gambaran keterbatasan terhadap intelektual dan fungsi adaptif. Reterdasi mental dapat terjadi dengan atau tanpa gangguan jiwa atau gangguan fisik lainnya. Dan secara litelar, anak yang memiliki reterdasi mental memiliki tiga buah, bahkan sepasang kromosom 21. Yang dimana pada suatu kondisi hal ini telah membuktikan bahwa anak down syndrome bukan kekurangan, melainkan berlebih.
Lantas atas dasar apa kita sering mendiskriminasikan mereka yang mempunyai ‘kelebihan’ ini di kehidupan sehari – hari kita. Setiap orang berhak mempunyai mimpi. Anda, saya, dan mereka yang memiliki kebutuhan khusus tanpa terkecuali,. Semua bisa dan berhak memiliki mimpi, Dan bahagia. Keterbatasan bukanlah pembatas seseorang untuk dapat meraih mimpi nya. Bukankah telah banyak kisah inspiratif dari mereka yang dapat kita pelajari sebagai bahan renungan kita. ‘A wish for a hope’ adalah sebuah kata yang sederhana yang mengandung makna bahwa sesuatu harapan yang sangat sulit terwujud sekalipun, namun bila kita terus berusaha dan berdoa, harapan itu akan tetap diharapkan menjadi sebuah harapan yang mungkin akan terwujud suatu saat nanti. Reterdasi mental adalah gejala permanen pada seseorang yang tidak bisa ditolak. Namun bukan berarti mimpi dan harapan menjadi penghalang untuk terus bekarya. Tidak ada yang tidak mungkin apabila kita mau berusaha.
Memiliki anggota keluarga yang memiliki reterdasi mental bukanlah suatu hal yang mudah. Sebagian keluarga menganggap hadirnya anak yang memiliki reterdasi mental di tengah – tengah kehidupan mereka hanya akan menimbulkan masalah, terutama bagi kedua orangtuanya. Karena mereka pasti akan membutuhkan perlakuan yang khusus dan ekstra. Ada beberapa latihan dan pendidikan anak dengan reterdasi mental secara umum ialah; mempergunakan dan mengembangkan sebaik – baik kapasitas yang ada pada anak, memperbaiki sifat – sifat yang salah atau anti sosial, dan mengajarkan suatu keahlian ( skill ) agar anak dapat hidup mandiri, dan mencari nafkah kelak suatu saat nanti.
‘Aku ingin besar, aku ingin jadi orang’ adalah sebuah ungkapan dari anak 7 tahun yang memiliki reterdasi mental akan suatu harapan kelak ia menjadi dewasa. Sebuah pengharapan sederhana namun sangat bermakna. Banyak sekali para anak yang memiliki reterdasi mental di luar sana, walaupun mereka bukanlah seorang Laura Potter sang aktris terkenal Hollywood, atau bahkan bukan Ira sahabat penulis yang penuh dengan ketegaran hatinya, namun setidaknya mereka bisa mandiri. Menjadi diri sendiri yang memiliki kepercayaan diri yang sama dengan yang lainnya. Percayalah saat kamu berhenti untuk bermimpi, maka orang lain tidak akan pernah memandang kamu. Dan selamanya kamu tidak akan pernah percaya diri. Tenang. Karena kamu mempunyai perbedaan dengan orang kebanyakan, maka Tuhan pasti akan lebih menyanyangi kamu. Para penyandang disabilitas adalah bukti nyata makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna dalam bentuk yang berbeda. Mereka adalah guru kiriman-NYA agar kita dapat lebih empati terhadap sesama manusia, dan mereka khususnya yang sering kita marjinalkan keberadaannya.
Dan setiap tanggal 3 Desember adalah sebuah momen untuk kita agar dapat memberikan apresiasi bagi mereka, saudara kita para disabilitas. Kita belajar banyak dari saudara kita penyandang disabilitas untuk saling menghargai dan bersikap empati terhadap sesama.
kamu..dan mereka mempunyai harapan yang sama. Jangan sebut mereka idiot.!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar