Kamis, 29 Januari 2015
A Wish For A Hope
Selasa, 20 Januari 2015
mimpi besar menjadi seorang banker
sejak kecil, aku tidak tahu mau jadi apa, namun aku selalu tahu ingin seperti siapa .
bekerja di bank merupakan mimpi terbesar yang ada dalam hidupku. sejak kecil sampai sekarang, aku selalu tahu apa yang aku mau, dan apa yang aku impikan. dan 'banker' adalah mimpi yang aku letakkan di tempat yang teratas dan istimewa sebagai mimpi besarku.
sejak kecil, aku selalu didoktrin oleh kakek ku yang merupakan seorang mantan banker di salah satu bank yang ada di medan dulunya. beliau selalu menceritakan kepadaku mengenai banking dan pekerjaan yang sangat ia cintai dulu. oleh sebab itu, aku yang saat itu masih kecil, secara alam bawah sadar, menjadi sangat excited tentang dunia perbankan.
"aku ingin seperti kakek" !
ucapakan yang selalu keluar dari mulutku, tiap kali ditanya mengenai cita-cita.
hingga akhinya aku yang sekarang sudah beranjak dewasa, dan saat ini sudah memasuki semester 6 di bangku kuliahan, impian itu kian menggebu dan menjadi saja.
hingga sekarang, aku sudah mempunyai beberapa teman yang telah bekerja di beberapa bank dengan berbagai posisi yang mereka geluti.
aku mempunyai kebiasaan
karena aku selalu percaya bahwa untuk bisa sukses salah satu caranya kita harus dikelilingi oleh orang-orang yang sukses yang mempunyai goal oriented seperti kita, sehingga kita bisa termotivasi untuk lebih maju seperti mereka. dan aku juga tidak pernah malu untuk bertanya apa, kenapa dan bagaimana kepada teman-teman ku yang sudah 'kecemplung' di dunia banking ini. karena rasa curious itu bagiku sangat perlu, selagi itu masih pada tingkat kewajaran.
hingga, semakin hari, aku terus berditerminasi, dan aku telah menetapkan untuk memilih bank bri sebagai 'jawaban' atas mimpiku selama ini.
kenapa bank bri? alasan nya sederhana, bank ini merupakan bank pertama yang telah ada sejak 119 tahun yang lalu, yang tentunya telah mendapat penghargaan dan track record yang sangat 'menjual' , dan telah banyak orang-orang hebat di dalamnya. namun secara pribadi, saya termotivasi dari seorang teman, seorang yang telah aku anggap abang sendiri, dia sekarang bekerja di bank bri sebagai mantri di salah satu unit cabang di banda aceh.
Dan posisi Program Pengembangan Staf (PPS) adalah posisi yang aku inginkan yang telah aku masukkan ke dalam goal list in my life.
*****
ambisi itu sangat diperlukan dalam hidup, dan aku adalah orang yang berambisi, dan percaya dengan mimpi.
meskipun sekarang ini aku masih duduk di semester 6, namun diterminasi ini akan terus berlanjut.aku tahu untuk bisa masuk dan bekerja di bank BRI tentulah tidak mudah. aku akan terus 'mendownload' diri ku, agar bagaimana cara seorang dony prasetyo bisa masuk dan keterima di PPS bank BRI.
*CERITA INI ADALAH MIMPI YANG KUTUNGKAN DALAM BENTUK TULISAN. BUAT KAMU (?) YANG TIDAK PERCAYA DAN MENGANGGAP AKU MASIH SEKEDAR 'CITA-CITA' ANAK KECIL. DARI KECIL HINGGA SEKARANG, AKU TAHU APA YANG AKU MAU, DAN AKU TERUS KONSISTEN DALAM 1 MIMPI KU. DAN SELAMA ITU PULA LAH, AKU TIDAK TAHU LAGI ITU APA NAMANYA, KALAU BUKAN 'PASSION'.
SEMOGA AKU BISA MEMBUKTIKAN KEPADA DIRIKU, MEREKA, DAN KAMU.
BISMILLAH.
Jumat, 16 Januari 2015
(esai) increasing the youth acehnese
When it had come in our mind about redefining a value, it means there is something "wrong" should we need to improve. If we talk about education, the author thinks, firstly we have to define the concept of idealist education. education is a necessity for every individual. Education itself can be interpreted as a method to develop the skills, habits and attitudes of obstruction that might be expected to make a person become a better human being. If we look at of the concept, the question arises what is wrong with education in Indonesia to re-define needs?
An education can make people become better. It is become a paradox, because in fact there are so many negative acts that they have done, educated people . However, the author thinks that I dont need become too serious to tell in detail about the 'story' of the bad educated people, quite reminding that the reader should be back to read newspapers, and Tv news about what they have done to this country.
Indonesia has 34 provinces that have a million stories about the problems of education. But here I would like to invite all of us as youth people of Aceh, to discuss the fate of education in the city called tanah rencong. To define the concept of education in one area needs to contemplation firstly, to reflect of what is actually required by the existing education in Aceh, because the authors believe that the problems that occur in A city is not necessarily be a problem in city B.
Firstly, to stimulated the reader if there is something wrong about the concept of education in Aceh, we can see examples of cases that we always see every day. "Aceh like city never sleep". That is the expression for the reality of what happen today. Coffee shop culture that hit in Aceh increasingly bad for the city that called as the Islamic Shari'a. The youth of Aceh is only spent their whole days in a coffee shop while playing gadgets that sometimes much damage morale and bad for the youth generation. Because they just spend their days in a coffee shop and forget their worship and leave activities more useful.
Secondly, drug cases and immoral dominate criminal cases that occurred in Aceh in recent years. within nine months, from January to September 2014, 600 cases of drugs already conveyed to the court, and had at least 100 cases were cases immoral teenagers in the same period.
With the authors describe two cases may be enough to convince the reader that there are actually things that need to be repaired from education in Aceh is an Islamic character education. Many are thought to be the educated person just needs to improve the quality of academic education, but it should be emphasized that the educational character as 'value' to redefine education in Aceh.
Why does the author focused on the development of character? the fact is many leaders in our country who have bad characters. Could this moral degradation will continue to be maintained? Unfortunately the author and perhaps the younger generation in Aceh won’t agree, and hope for changes.
When someone has a good character, he would automatically have a good life skill capabilities anyway. Life skills are life skills possessed by each individual towards a positive impact. Inside there are some skills Life skills possessed a teenager. The first is a physical skill, when a teenager has the physical skills he will govern how it is time to exercise, when he is studying, and time to rest. The second is emotional skills, when a teenager has an emotional skills he can set his emotional, can live in a society with good, and can arrange a time for worship.
I believe that the form of moral education and character formation for the people of Aceh trick range by adding religious subjects in all schools, requires every citizen to participate in a weekly study in the mosque, or requires each parent to facilitate their children to study religion as early as possible.
Never too late to change. If you want to believe and you want to prove to yourself, nothing is impossible
TRANSLATE
Ketika sempat terbesit di benak kita mengenai mendefinisikan kembali sebuah nilai, itu artinya adalah memang ada sesuatu yang “salah” yang harus perlu kita perbaiki. Jika kita berbicara mengenai edukasi, penulis rasa terlebih dahulu kita harus mendefinisikan konsep pendidikan yang idealis, well, pendidikan adalah sebuah kebutuhan bagi setiap individu. Pendidikan itu sendiri dapat diartikan sebagai suatu metode untuk mengembangkan keterampilan, kebiasaan, dan sebah sikap yang nantinya diharapkan dapat membuat seseorang menjadi manusia yang lebih baik. Jika kita berkaca dari konsep tersebut, timbul pertanyaan apa yang salah dengan pendidikan di indonesia sehingga perlu di definisikan ulang ?
Dengan pendidikan dapat menjadikan pribadi manusia menjadi lebih baik. Hal ini menjadi paradoks mengingat sudah terlalu banyak tindakan negatif yang tidak semestinya dilakukan mereka, orang terdidik. Namun penulis kira, penulis tidak perlu terlalu serius menceritakan secara detail mengenai ‘kisah’ parah sang terdidik, cukup mengingatkan saja agar pembaca kembali membaca surat kabar, media cetak, maupun berita online tentang apa yang telah kita perbuat terhadap negeri ini.
Indonesia yang memiliki 34 provinsi di dalamnya, mempunyai sejuta cerita mengenai permasalahan tentang pendidikan. Namun disini penulis ingin mengajak kita semua sebagai generasi muda aceh, untuk membahas nasib pendidikan di tanah rencong, aceh lon sayang. Untuk mendefinisikan konsep pendidikan di suatu daerah pastinya membutuhkan kontemplasi terlebih dahulu, membutuhkan perenungan terhadap apa yang sebenarnya yang dibutuhkan oleh pendidikan yang ada di aceh, karena penulis percaya bahwa permasalahan yang terjadi di kota A belum tentu menjadi sebuah masalah di kota B
Pertama, untuk menstimulan pembaca bahwa ada sesuatu konsep yang salah mengenai pendidikan di aceh adalah kita bisa melihat contoh kasus yang sering kita lihat sekarang ini. “Aceh like city never sleep”. Itulah ungkapan buat realitas yang terjadi saat ini. Budaya warung kopi yang melanda di Aceh kian berdampak buruk saja dalam citra Aceh sebagai kota syariat islam . Para remaja Aceh kini hanya menghabiskan waktu nya sepanjang hari di warung kopi sambil bermain gadget yang terkadang banyak merusak moral para dan berdampak buruk bagi generasi muda. Karena Mereka hanya menghabiskan waktu seharian penuh di warung kopi dan melupakan ibadah serta meninggalkan kegiatan-kegiatan yang lebih bermamfaat.
Kedua, Kasus narkoba dan asusila mendominasi kasus-kasus kejahatan yang terjadi di Aceh dalam beberapa tahun terakhir. dalam kurun sembilan bulan, yakni Januari-September 2014, sudah 600 kasus narkoba dilimpahkan ke pengadilan, dan sedikitnya sudah 100 kasus adalah kasus asusila yang dilakukan para remaja dalam periode yang sama.
Dengan dua kasus yang penulis jabarkan mungkin sudah cukup meyakinkan pembaca bahwa sebenarnya memang ada hal yang perlu diperbaiki dari pendidikan di aceh yaitu pendidikan karakter secara islami. Banyak yang mengira untuk menjadi orang terdidik itu hanya perlu meningkatkan kualitas pendidikan secara akamedis, namun perlu dipertegas bahwa pendidikan karakter sebagai ‘nilai’ untuk mendefinisiakan ulang pendidikan di aceh.
Mengapa penulis lebih menfokuskan kepada pengembangan karakter ? faktanya adalah banyak para pemimpin di negara kita yang memiliki karakter yang belum baik. Mungkinkah degredasi moral ini akan terus dipertahankan? Sayangnya penulis dan mungkin para generasi muda di aceh akan tidak setuju, dan berharap adanya suatu perubahan.
Ketika seseorang memiliki karakter yang baik, otomatis ia akan mempunyai kemampuan life skill yang bagus pula. Life skill adalah kecakapan hidup yang dimiliki setiap individu menuju dampak positif . Di dalam Life skill ada beberapa keterampilan yang dimiliki seorang remaja. Yang pertama adalah keterampilan fisik, ketika seorang remaja memiliki keterampilan fisik maka ia akan mengatur bagaimana ia saatnya berolahraga, waktu ia belajar, dan waktu beristirahat. Yang kedua adalah keterampilan emosional, ketika seorang remaja memiliki keterampilan emosional dia dapat mengatur emosionalnya, dapat hidup bermasyarakat dengan baik , dan dapat mengatur waktu untuk beribadah.
Saya percaya bahwa membentuk pendidikan moral dan pembentukan karakter bagi masyarakat Aceh Caranya beragam, mulai dengan menambah mata pelajaran agama di semua sekolah, mewajibkan setiap warga untuk mengikuti kajian mingguan di mesjid, ataupun mewajibkan setiap orang tua untuk menfasilitasi anak mereka untuk belajar agama sedini mungkin.
Tidak ada kata terlambat dalam mengikat hikmah. If you wanna believe and you wanna prove to yourself, nothing is impossible
Writen : Dony Prasetyo

